Menggugat Kesultanan Demak dan Pajang

Penulis. Y. Supriyadi dan F. Sumiyati

Kesultanan Demak layak sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, meninggalkan sejumlah problematik. Mengingat lokasi kesultanan di pesisir, dapat diduga sebagai kesultanan kemaritiman. Namun kerajaan itu penuh misteri. Letak kraton maupun kapan berdirinya kesultanan sampai kini belum ada kejelasan. Keberadaan masjid Demak, masih meninggalkan sejumlah misteri. Ada dugaan masjid beratap meru tersebut didirikan sesudah Majapahit terjadi ‘sirna ilang kertaning bumi’. Yang jelas dan pasti, sumbangan para wali cukup dominan dalam syiar Islam.
Sejumlah pengamat wayang mengungkap R. Patah dan Raden Trenggana ikut menyumbang penyempurnaan wayang. Perintisan gunungan blumbangan dan wayang terbuat dari kulit ternak pantas diapresiasi. Sunan Kalijaga ikut andil dalam pagelaran wayang kulit, selain memanfaatkan gamelan untuk sarana dakwah Islami. Dampaknya tradisi grebeg masih membudaya di Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Keberadaan Pangeran Suryawiyata yang terbunuh di tepi sungai, mewarnai bayang- bayang muram. Secara genesis dipertanyakan tokoh ini anak kedua atau ketiga dari R. Patah. Yang jelas pembunuhan tokoh itu akan berdampak pembunuhan beruntun pangeran- pangeran di kesultanan Demak. Bahkan kemudian mewarnai suksesi berdarah antara Pangeran Arya Penangsang di Jipang versus Sultan Hadiwijaya di Pajang yang melibatkan wali.
Sejarah terus mengalir dari Demak ke Pajang yang lokasinya lereng timur G. Merapi. Mulai ada tradisi untuk melegitimasi kekuasaan dari Sunan Giri. Tradisi ini berlanjut sampai Kesultanan Mataram.
Prototipe bangunan kraton Majapahit menjadi pola untuk kraton Demak, Pajang dan Mataram-Kotagede. Salah satu misteri Sutawijaya, benarkah penguasa Mataram-Kotagede tersebut tidak sekedar anak angkat melainkan anak pertama Hadiwijaya. Yang pasti Hadiwijaya tidak pernah perang tanding melawan Sutawijaya di Prambanan. Dengan setengah hati Hadiwijaya merelakan bergesernya kekuasaan ke Mataram.
Buku ini pantas sebagai bahan bacaan bagi pembelajar sejarah, mahasiswa dan pemerhati kebudayaan. Setitik harapan semoga mampu membuka wacana kesejarahan Islami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 1 =