Melacak Tembang Macapat dalam Budaya Jawa

Drs. Y. Supriyadi,M.Pd.
Dra. F. Sumiyati

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa yang menceriterakan tahap-tahap kehidupan manusia. Filosofinya menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak lahir (Jawa: Mijil) sampai meninggal dunia. Menurut ciri khas daerahnya di Jawa, minimal terdapat enam macapat, yaitu gaya Semarangan, Mataraman, Gresikan, Majapahitan, Tengger dan Malangan.
Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat dengan nama lain juga dapat ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Beberapa waktu yang lalu macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu- satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun baru mencapai wilayah di Jawa Tengah.
Karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa Islam pada umumnya ditulis menggunakan metrum macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra. Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan Serat Kalatidha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × one =