Kebijakan dan Tata Kelola Pemerintah Kabupaten/Kota dan Desa Menuju Kemandirian

Editor:
Dr. Supardal, M.Si

Secara umum fokus dan lokus kajian dalam buku ini terbagi dalam 2 lokus yakni: Pertama, level kabupaten/kota, antara lain tulisan dengan fokus; pelayan publik berbasis ICT dengan problematikanya (Dr. Supardal); Proses kebijakan berbasis dialog (Tri Daya Rini, M.Si); Kebijakan penataan PKL berbasis komunitas (Safitri Endah W., M.Si); Strategi pengentasan kemiskinan (Yuni Satia Rahayu, Ph.D); dan Pemanfaatan potensi bonus demografi (Sunarto, Ph.D). Kedua, level desa antara lain tulisan dengan fokus : Pengelolaan desa berbasis web (Dr. Widodo Triputro); Gender dan pengelolaan pemerintahan desa (Leslie, Ph.D); Pemanfaatan sumber daya negara dan masyarakat dalam pilkades (Parwoto, M.Si); Model reprentasi kelembagaan formal desa dan kepemimpinan transformatif (Jaka Triwidaryanta, M.Si); Pengelolaan keuangan mikro dan penguatan UMKM (Sri Utama, M.Si); Pengembangan BUMDes (Fajar Sidik, MMA).

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR – Suatu Usaha untuk Membaca Konsep dalam Konteks

Dony Kleden

Buku ini hadir untuk mencoba merapatkan renggang antara konsep dengan konteks atau realitas. Pembahasan dalam buku ini dibuat cukup cair dengan pendekatan-pendekatan yang sangat realistis dan kontekstual dengan tujuan supaya segala konsep yang dirasa abstrak bisa lebih operatif dipahami yang pada akhirnya dengan mudah diaplikasikan. Buku ini kiranya menjadi jawaban atas dahaga anda untuk membaca konsep dalam konteks. Lebih dari itu, buku ini kiranya menjadi kaca benggala untuk membaca realitas dalam suatu kesadaran diri yang penuh, bahwa kita adalah bagian dari realitas yang sedang dibicarakan itu.

Mempersiapkan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus – TUNA GRAHITA RINGAN YANG BERMARTABAT DAN MANDIRI

Dra. Kris Dwiati, M. A

Permasalahan peserta didik berkebutuhan khusus tuna grahita antara lain pengembangan diri memang bukan masalah yang ringan karena memerlukan upaya keterlibatan banyak pihak untuk mengangkat ketunaannya itu lebih-lebih di masyarakat kita yang rata-rata memahami dengan tuna grahita ini. Dianggapnya tuna ini tidak sama dengan tuna-tuna yang lain, sehingga bukan suatu yang ironis kalau kita melihat nasib penyandang tuna grahita yang diperlakukan sebagai orang abnormal, anak cacat atau anak yang terganggu jiwanya.

Sedangkan di pihak lain ada yang beranggapan bahwa anak itu terlahir di dunia merupakan amanat dari Tuhan sehingga harus kita didik, dibimbing dan dilatih dengan penuh kasih sayang, walaupun bagaimana keadaan anak itu kita harus menerima yang tidak diubah dan memperbaiki yang masih bisa diperbaiki.

Sekarang peserta didik yang mengalami tuna grahita tidak hanya mempunyai hak untuk hidup tetapi juga perlu dididik, dibimbing, dilatih melalui lembaga pendidikan khusus sehingga dapat hidup wajar sebagai manusia yang mempunyai rasa tanggung jawab, disiplin, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dapat bekerja dalam berbagai jenis pekerjaan sederhana dan hidup berkeluarga dengan baik.

Kembara Seni I Wayan Dibia: Sebuah Autobiografi

 I Wayan Dibia

Berkesenian Dengan Hati. Di zaman yang serba materialistis seperti sekarang, semakin banyak orang berkesenian tanpa kesungguhan hati atau nekeng twas. Hingar bingar aktivitas seni pada umumnya merupakan kegiatan seni budaya yang lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, apapun bentuknya, daripada dorongan internal, seperti: keinginan sendiri, dorongan kata hati, karena kecintaan terhadap seni, dan sebagainya. Berkesenian yang tidak nekeng twas hanya akan memberikan kepuasan fisikal yang dangkal dan bersifat sesaat, ketimbang kepuasan spiritual yang kekal. Lebih dari itu, berkesenian dengan hati akan mendorong seorang pelaku seni untuk benar-benar fokus dalam melahirkan sajian seni metaksu yang memancarkan daya pukau dan energi prima. Hal ini kiranya senada dengan pendapat Alma Hawkins yang menyatakan bahwa kreativitas merupakan proses pencarian ke dalam diri yang penuh tumpukan kenangan, pikiran, dan sensasi, hingga ke sifat yang paling mendasar bagi kehidupan. Ungkapan ini kiranya dapat menjadi peringatan bagi setiap pelaku, baik kreator seni, pelatih dan pelajar seni agar senantiasa melakukan kegiatan seni dengan melibatkan rasa dalam (hati). Berkesenian dengan hati akan melibatkan kecerdasan serta kepekaan rasa, kejujuran hati, ketulusan budi, sikap toleransi, dan rasa kebersamaan. Oleh sebab itu berkesenian dengan hati adalah praktik yang perlu ditanamkan kembali kepada setiap insan muda. Hal ini menjadi penting jika ingin kegiatan kesenian mampu memberikan kenikmatan lahir serta batin, dan apabila ingin berkesenian benar-benar menjadi aktivitas budaya yang mampu memberikan bukan saja kepuasan estetis melainkan untuk membangun kesadaran serta kecintaan budaya bagi setiap anak bangsa.

BLESSING FROM ALLAH

Roisah Hasti Nawangsih Retnawati

SEBUAH TESTIMONI, Saya selalu meyakini bahwa menulis memiliki banyak manfaat, bagi penulis maupun bagi pembaca. Bagi mbak Hasti, penulis buku ini, menulis telah menjadi sarana katarsis —‘beban’ luar biasa yang telah berhasil dijalani selama ini, terasa menjadi lebih ringan setelah dituliskan. Tidak semua ibu sanggup membawa ‘beban’ seperti yang dibawa mbak Hasti. Namun Allah Maha Tahu, bahwa Rafif yang luar biasa, harus ditipkanNya kepada ayah dan ibu yang juga luar biasa. Bagi kita yang menbaca, kisah heroik ini bukan saja memberi informasi, ilmu, dan pengetahuan tentang bagaimana membersamai seorang anak yang dikarunian cerebral palsy; namun juga telah memberikan pendalaman makna sebuah ujian dan kesabaran; juga memberikan inspirasi bagi keteguhan sikap dan jati diri, dalam kehidupan sehari-hari. Saya menangis membaca beberapa bagian buku ini, bukan karena merasa ‘kasihan’ atas perjuangan yang demikian mengharu biru. Saya menangis justru karena merasa belum ada apa-apanya dibandingkan ibunda dan ayahnda dari Rafif yang sedemikian istimewa. Bagi banyak kalangan manusia, mereka masih mencari-cari celah untuk bisa masuk ke dalam surga. Namun ibunda dan ayahnda Rafif telah Allah berikan jalan lempang menuju surga melalui ‘titipan sementara’ yang membuat mereka selalu berjuang di dalam setiap detik kehidupan. Selamat membaca, selamat menyelami, selamat menghayati. Buku ini sangat berarti bagi siapapun yang ingin mengerti makna terdalam dari rahasia sang kehidupan.

Cahyadi Takariawan Pegiat keluarga di Jogja Family Center (JFC) dan Rumah Keluarga Indonesia (RKI); penulis buku serial Wonderful Family.

The Emergence of Confucianism in Indonesia in the Twentieth Century

Prof. Dr. Lasiyo, M.A., M.M

The Chinese religion which is grounded in the teaching of Confucius has been observed by the Chinese in Indonesia for a long time. Confucian teaching was visible in the ancestral altars in Chinese homes and in various rituals and customs of the Chinese community, notwithstanding its Indonesian acculturation concerning the ceremonies for marriages and funerals and the modes of address towards relatives and elders (Coppel, 1986: 22). In the twentieth century, the development of Confucianism in Indonesia can be divided into two eras: before and after the proclamation of Indonesian independence. This study will concentrate on the latter.
Before independence, the Confucian movement was launced in Indonesia during the Dutch colonialisation at the beginning of the twentieth century. It was linked to the Confucian reform movement in China, promoted by K’ang Yu-wei and Liang Ch’i-ch’ao in the 1890s, which quickly spread to other countries, particularly in Southeast Asia, for example Singapore, Malaysia and Indonesia. There, the movement were relatively vigorous. Yen Ching-Hwang (1979:35) mentions that the movement in Singapore and Malaysia was an important part of the overall Confucian revival movement. Its importance lay not so much in supporting the movement in China, as in the stimulation and influence it had on the overseas Chinese communities in those Southeast Asian countries.

Melacak Tembang Macapat dalam Budaya Jawa

Drs. Y. Supriyadi,M.Pd.
Dra. F. Sumiyati

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa yang menceriterakan tahap-tahap kehidupan manusia. Filosofinya menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak lahir (Jawa: Mijil) sampai meninggal dunia. Menurut ciri khas daerahnya di Jawa, minimal terdapat enam macapat, yaitu gaya Semarangan, Mataraman, Gresikan, Majapahitan, Tengger dan Malangan.
Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat dengan nama lain juga dapat ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Beberapa waktu yang lalu macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu- satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun baru mencapai wilayah di Jawa Tengah.
Karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa Islam pada umumnya ditulis menggunakan metrum macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra. Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan Serat Kalatidha.